Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Mei 2012

CONTOH CERAMAH RAHMADHAN "Hikmah Puasa Ramadhan"


Innal hamdalillahi nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalahu wa mayyudhlilfalaa haadiyalahu

Allahumma sholli wa sallam ‘alaa muhammadin wa ‘alaa alihii wa ash haabihi wa man tabi’ahum bi ihsaani ilaa yaumiddiin.

Yaa ayyuhalladziina aamanuu ittaqullaaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna ilaa wa antum muslimuun

,       
  “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa diantara kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka hendaknya mengganti sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah  kamu membesarkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,supaya kamu bersyukur". (QS. Al-Baqoroh: 185)

Sidang jum’at yang dirahmati Allah,
Dinamakan Ramadhan sebab pada bulan ini dosa-dosa dan kesalahan dibakar (Romadh),keinginan hawa nafsu dikekang, melaksanakan ketaatan dan mengharap pahala dari Allah dengan menahan diri(shiyam) dari apa–apa yang membatalkan sejak fajar hingga terbenamnya matahari. Bulan Ramadhan merupakan karunia besar bagi hamba-hamba Allah, sebab di dalamnya terdapat manfaat yang sangat banyak. Diantara manfaatnya adalah dihapuskannya dosa-dosa antara Ramadhan dengan Ramadhan yang lain.
Dan ibadah puasa itu telah disyari’atkan kepada manusia sejak zaman purba hingga sekarang. Ramadhan merupakan bulan yang paling mulia dalam perjalanan bulan-bulan dalam setahun. Karena nilai pahala ibadah pada bulan ini dilipat gandakan oleh Allah daripada bulan yang lain.Maka hendaknya setiap muslim menyegerakan amal dalam bulan ini, menyempurnakan ibadah-ibadah, memperbaiki kekurangan-kekurangan. Misalnya dengan bersedekah, tadarus Al-Qur’an, berdzikir, qiyamul-lail, berakhlaq baik dan sebagainya. Di antara kemulian bulan ini juga adalah adanya malam Lailatul-qodar, yang 1 malam nilainya lebih baik dari 1000 bulan atau lebih dari 83 tahun.
Puasa Ramadhan dengan segala amal ibadahnya berupa tarawih, dzikir, infaq, I’tikaf, membaca al- Qur’an dan lainnya tentu akan mampu menghantarkan manusia menjadi taqwa. Sebab Ramadhan merupakan bulan tarbiyah, mendidik hawa nafsu, menempa keinginan, kepentingan, prinsip hidup, sudut pandang, agar tunduk semata-mata kepada Allah swt.
Ramadhan juga bulan jihad, dimana puasa mengajarkan jihad melawan rayuan syetan kepada kejahatan, ajakan hawa nafsu, menanjurkan supaya sabar, dermawan, produktif, tidak pemarah, disiplin waktu. Puasa membentuk manusia jujur kepada diri sendiri, mampu menahan diri dari yang dilarang Allah. Memiliki tanggung jawab, adil, memiliki kepedulian social dan sebagainya.
Kemuliaan Al-Qur’an Tidak kalah pentingnya, Allah memuliakan bulan ini dari seluruh bulan yang ada karena bulan ini Allah turunkan Al-Qur’an (Syahrul-Qur’an). Allah turunkan kitab-kitab untuk para nabi-Nya, Taurat, Injil, Zabur dan suhuf para nabi dan rosul juga pada bulan ini..
Agungnya Ramadhan juga karena identik dengan sifat al-Qur’an yang mulia. Yang mengandung petunjuk (hudan), menunjukkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia agar diikuti, menunjukkan mana yang bahaya (mudhorrot) bagi mereka agar dijauhi. Menunjukkan jalan-jalan kebaikan, dan menunjukkan pula jalan-jalan kebinasaan.

Bagi orang yang tidak mampu berpuasa dan tidak memungkinkan pula menggantinya maka bolehmenggantinya dengan fidyah. Yaitu memberi makan fakir miskin sebanyak puasa yang ditinggalkan. Seperti kakek-nenek yang sudah tua, orang sakit yang kemungkinan tidak diharapkan kesembuhannya, wanita hamil yang sangat dikhawatirkan kesehatan bayinya. Dan sebagainya.
Diriwayatkan oleh imam Bukhori dan Muslim, bahwa pada zaman rosulullah saat beliau mengadakan perjalanan bersama para sahabatnya, sebagian mereka ada yang tetap berpuasa, dan sebagian yang lain tidak. Namun diantara mereka tidak ada yang saling mencela. Hal ini menunjukkan bahwa syari’at Allah mengandung manfaat yang sangat banyak. Sebaliknya apa yang dilarang Allah hakikatnya mengandung kerusakan yang luar biasa bagi jiwa dan badan. Salah satu sifat mustahil bagi Allah adalah berbuat dan berkata sia-sia. Maka apa saja yang difirman Allah adalah bermanfaat.

Dalam hal ini rosulullah bersabda; “Maka sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kalamullah (Al- Qur’an), dan sebagus-bagus petunjuk adalah petunjuk Muhammad….”
(HR. Bukhory).

Namun banyak manusia yang tidak mengerti hikmah ini. Sesungguhnya ajaran Islam itu adalah kemudahan. Dan barangsiapa yang menentang ajaran Islam sesungguhnya justru mempersempit hidup. Akan tetapi kebanyakan manusia mencari rekayasa pemuasan diri dengan hawa nafsu. Padahal hal ini sejatinya adalah kehancuran yang nyata. Yang lebih aneh lagi, mereka menyangka ajaran Islam sebagai beban, menjadi penghalang kemajuan dan prasangka-prasangka keji lainnya. Hendaknya bersyukur Maka barangsiapa yang menyaksikan bulan Ramadhan hendaknya berpuasa, yakni bagi setiap muslim yang baligh, sehat serta mampu. Alangkah indahnya jika nilai-nlai ini mampu terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadhan. Apabila telah kita laksanakan perintah-perintah Allah dengan taat kepada-Nya, menunaikan kewajiban-kewajiban, meninggalkan apa yang dilarang, menjaga batasan-batasan-Nya, maka mudah-mudahan kita menjadi orang yang bertaqwa. Sebagian ulama ada yang mengambil istimbat disyari’atkannya takbiran pada saat menjelang hari raya dengan ayat ini. Sudah sepantasnya kita wajib bersyukur dengan adanya rangkaian syari’at ibadah di bulan puasa ini. Yakni dengan membesarkan Allah dengan banyak-banyak mengucapkan takbir, tahmid, tasbih menjelang hari kemenangan, idul Fitri. Merayakan hari kemenangan dengan banyak bersilaturahim.

Barakallahu lii wa lakum fill qur’aanil azhiim wa nafa’nii wa iyyaakum bima fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qowlii hadzaa wa astaghfirullaaha lii wa lakum wa lisaa iril muslimiina min kulli danbin fastaghfiruuhu innaInnal hamdalillahi robbal’aalamiin wa asyhadu an laa ilaaha illahllaahu wa liyyash shalihiina wa asyhadu anna muhammadan khaatamul anbiyaai wal mursaliina allahumma shalli ‘alaa muhammadan wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shollayta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid. Wa barok ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarokta ‘ala ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid. Ammaa ba’ad..hu huwal ghafuurur rahiimu.
Innal hamdalillahi robbal’aalamiin wa asyhadu an laa ilaaha illahllaahu wa liyyash shalihiina wa asyhadu anna muhammadan khaatamul anbiyaai wal mursaliina allahumma shalli ‘alaa muhammadan wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shollayta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.Wa barok ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarokta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.
Ammaa ba’d
u..
Hikmah disyari’atkannya puasa adalah agar manusia menjadi bertaqwa. Sebab puasa adalah merupakan penyebab utama agar mencapai ketaqwaan. Yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Syari’at puasa menjadi penyebab utama meraih taqwa karena orang yang berpuasa mampu mentaati Allah walaupun dalam masalah yang sebenarnya dihalalkan sebelumnya, seperti makan, minum, berhubungan badan suami-istri dan sebagainya. Dan inilah taqwa. Orang yang membiasakan mendidik nafsunya untuk mengikuti perintah Allah, yang sebelumnya suka diumbar.
Dari sisi medis, puasa menjadikan sempitnya pembuluh darah, sehingga godaan syetan yang berjalan melalui alirannya menjadi buntu. Maka dengan puasa tersebut ambisi berbuat maksiyat melemah.
Dengan puasa pula keinginan untuk memperbanyak ketaatan semakin kuat. Misalnya orang kaya dapat merasakan langsung bagaimana pedihnya rasa lapar sebagaimana mendera kaum fakir-miskin. Sehingga timbullah tanggung jawab sosialnya. Dan inilah buah taqwa.

Allahummagh fir lilmuslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati. Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa. Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa.Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fua ‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina. Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

Kisah Nabi Muhammad saw


Semasa umat manusia dalam kegelapan dan suasana jahiliyyah, lahirlah seorang bayi pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Makkah. Bayi yang dilahirkan bakal membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia. Bapa bayi tersebut bernama Abdullah bin Abdul Mutallib yang telah wafat sebelum baginda dilahirkan iaitu sewaktu baginda 7 bulan dalam kandungan ibu. Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Kehadiran bayi itu disambut dengan penuh kasih sayang dan dibawa ke ka’abah, kemudian diberikan nama Muhammad, nama yang belum pernah wujud sebelumnya.
Selepas itu Muhammad disusukan selama beberapa hari oleh Thuwaiba, budak suruhan Abu Lahab sementara menunggu kedatangan wanita dari Banu Sa’ad. Adat menyusukan bayi sudah menjadi kebiasaan bagi bangsawan-bangsawan Arab di Makkah. Akhir tiba juga wanita dari Banu Sa’ad yang bernama Halimah bin Abi-Dhuaib yang pada mulanya tidak mahu menerima baginda kerana Muhammad seorang anak yatim. Namun begitu, Halimah membawa pulang juga Muhammad ke pedalaman dengan harapan Tuhan akan memberkati keluarganya. Sejak diambilnya Muhammad sebagai anak susuan, kambing ternakan dan susu kambing-kambing tersebut semakin bertambah. Baginda telah tinggal selama 2 tahun di Sahara dan sesudah itu Halimah membawa baginda kembali kepada Aminah dan membawa pulang semula ke pedalaman.
Kisah Dua Malaikat dan Pembedahan Dada Muhammad
Pada usia dua tahun, baginda didatangi oleh dua orang malaikat yang muncul sebagai lelaki yang berpakaian putih. Mereka bertanggungjawab untuk membedah Muhammad. Pada ketika itu, Halimah dan suaminya tidak menyedari akan kejadian tersebut. Hanya anak mereka yang sebaya menyaksikan kedatangan kedua malaikat tersebut lalu mengkhabarkan kepada Halimah. Halimah lantas memeriksa keadaan Muhammad, namun tiada kesan yang aneh ditemui.
Muhammad tinggal di pedalaman bersama keluarga Halimah selama lima tahun. Selama itu baginda mendapat kasih sayang, kebebasan jiwa dan penjagaan yang baik daripada Halimah dan keluarganya. Selepas itu baginda dibawa pulang kepada datuknya Abdul Mutallib di Makkah.
Datuk baginda, Abdul Mutallib amat menyayangi baginda. Ketika Aminah membawa anaknya itu ke Madinah untuk bertemu dengan saudara-maranya, mereka ditemani oleh Umm Aiman, budak suruhan perempuan yang ditinggalkan oleh bapa baginda. Baginda ditunjukkan tempat wafatnya Abdullah serta tempat dia dikuburkan.
Sesudah sebulan mereka berada di Madinah, Aminah pun bersiap sedia untuk pulang semula ke Makkah. Dia dan rombongannya kembali ke Makkah menaiki dua ekor unta yang memang dibawa dari Makkah semasa mereka datang dahulu. Namun begitu, ketika mereka sampai di Abwa, ibunya pula jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia lalu dikuburkan di situ juga.
Muhammad dibawa pulang ke Makkah oleh Umm Aiman dengan perasaan yang sangat sedih. Maka jadilah Muhammad sebagai seorang anak yatim piatu. Tinggallah baginda dengan datuk yang dicintainya dan bapa-bapa saudaranya.
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk” (Surah Ad-Dhuha, 93: 6-7)

Abdul Mutallib Wafat
Kegembiraannya bersama datuk baginda tidak bertahan lama. Ketika baginda berusia lapan tahun, datuk baginda pula meninggal dunia. Kematian Abdul Mutallib menjadi satu kehilangan besar buat Bani Hashim. Dia mempunyai keteguhan hati, berwibawa, pandangan yang bernas, terhormat dan berpengaruh dikalangan orang Arab. Dia selalu menyediakan makanan dan minuman kepada para tetamu yang berziarah dan membantu penduduk Makkah yang dalam kesusahan.

Muhammad diasuh oleh Abu Talib
Selepas kewafatan datuk baginda, Abu Talib mengambil alih tugas bapanya untuk menjaga anak saudaranya Muhammad. Walaupun Abu Talib kurang mampu berbanding saudaranya yang lain, namun dia mempunyai perasaan yang paling halus dan terhormat di kalangan orang-orang Quraisy.Abu Talib menyayangi Muhammad seperti dia menyayangi anak-anaknya sendiri. Dia juga tertarik dengan budi pekerti Muhammad yang mulia.
Pada suatu hari, ketika mereka berkunjung ke Syam untuk berdagang sewaktu Muhammad berusia 12 tahun, mereka bertemu dengan seorang rahib Kristian yang telah dapat melihat tanda-tanda kenabian pada baginda. Lalu rahib tersebut menasihati Abu Talib supaya tidak pergi jauh ke daerah Syam kerana dikhuatiri orang-orang Yahudi akan menyakiti baginda sekiranya diketahui tanda-tanda tersebut. Abu Talib mengikut nasihat rahib tersebut dan dia tidaak banyak membawa harta dari perjalanan tersebut. Dia pulang segera ke Makkah dan mengasuh anak-anaknya yang ramai. Muhammad juga telah menjadi sebahagian dari keluarganya. Baginda mengikut mereka ke pekan-pekan yang berdekatan dan mendengar sajak-sajak oleh penyair-penyair terkenal dan pidato-pidato oleh penduduk Yahudi yang anti Arab.
Baginda juga diberi tugas sebagai pengembala kambing. Baginda mengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Baginda selalu berfikir dan merenung tentang kejadian alam semasa menjalankan tugasnya. Oleh sebab itu baginda jauh dari segala pemikiran manusia nafsu manusia duniawi. Baginda terhindar daripada perbuatan yang sia-sia, sesuai dengan gelaran yang diberikan iaitu “Al-Amin”.
Selepas baginda mula meningkat dewasa, baginda disuruh oleh bapa saudaranya untuk membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwailid, seorang peniaga yang kaya dan dihormati. Baginda melaksanakan tugasnya dengan penuh ikhlas dan jujur. Khadijah amat tertarik dengan perwatakan mulia baginda dan keupayaan baginda sebagai seorang pedagang. Lalu dia meluahkan rasa hatinya untuk berkahwin dengan Muhammad yang berusia 25 tahun ketika itu. Wanita bangsawan yang berusia 40 tahun itu sangat gembira apabila Muhammad menerima lamarannya lalu berlangsunglah perkahwinan mereka berdua. Bermulalah lembaran baru dalam hidup Muhammad dan Khadijah sebagai suami isteri.

Penurunan Wahyu Pertama
Pada usia 40 tahun, Muhammad telah menerima wahyu yang pertama dan diangkat sebagai nabi sekelian alam. Ketika itu, baginda berada di Gua Hira’ dan sentiasa merenung dalam kesunyian, memikirkan nasib umat manusia pada zaman itu. Maka datanglah Malaikat Jibril menyapa dan menyuruhnya membaca ayat quran yang pertama diturunkan kepada Muhammad.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan” (Al-’Alaq, 96: 1)
Rasulullah pulang dengan penuh rasa gementar lalu diselimuti oleh Khadijah yang cuba menenangkan baginda. Apabila semangat baginda mulai pulih, diceritakan kepada Khadijah tentang kejadian yang telah berlaku.
Kemudian baginda mula berdakwah secara sembunyi-sembunyi bermula dengan kaum kerabatnya untuk mengelakkan kecaman yang hebat daripada penduduk Makkah yang menyembah berhala. Khadijah isterinya adalah wanita pertama yang mempercayai kenabian baginda. Manakala Ali bin Abi Talib adalah lelaki pertama yang beriman dengan ajaran baginda.Dakwah yang sedemikian berlangsung selama tiga tahun di kalangan keluarganya sahaja.

Dakwah Secara Terang-terangan
Setelah turunnya wahyu memerintahkan baginda untuk berdakwah secara terang-terangan, maka Rasulullah pun mula menyebarkan ajaran Islam secara lebih meluas.
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Al-Hijr, 15:94)
Namun begitu, penduduk Quraisy menentang keras ajaran yang dibawa oleh baginda. Mereka memusuhi baginda dan para pengikut baginda termasuk Abu Lahab, bapa saudara baginda sendiri. Tidak pula bagi Abu Talib, dia selalu melindungi anak saudaranya itu namun dia sangat risau akan keselamatan Rasulullah memandangkan tentangan yang hebat dari kaum Quraisy itu. Lalu dia bertanya tentang rancangan Rasulullah seterusnya. Lantas jawab Rasulullah yang bermaksud:
“Wahai bapa saudaraku, andai matahari diletakkan diletakkan di tangan kiriku dan bulan di tangan kananku, agar aku menghentikan seruan ini, aku tidak akan menghentikannya sehingga agama Allah ini meluas ke segala penjuru atau aku binasa kerananya”
Baginda menghadapi pelbagai tekanan, dugaan, penderitaan, cemuhan dan ejekan daripada penduduk-penduduk Makkah yang jahil dan keras hati untuk beriman dengan Allah. Bukan Rasulullah sahaja yang menerima tentangan yang sedemikian, malah para sahabatnya juga turut merasai penderitaan tersebut seperti Amar dan Bilal bin Rabah yang menerima siksaan yang berat.

Kewafatan Khadijah dan Abu Talib
Rasulullah amat sedih melihat tingkahlaku manusia ketika itu terutama kaum Quraisy kerana baginda tahu akan akibat yang akan diterima oleh mereka nanti. Kesedihan itu makin bertambah apabila isteri kesayangannya wafat pada tahun sepuluh kenabiaannya. Isteri bagindalah yang tidak pernah jemu membantu menyebarkan Islam dan mengorbankan jiwa serta hartanya untuk Islam. Dia juga tidak jemu menghiburkan Rasulullah di saat baginda dirundung kesedihan.
Pada tahun itu juga bapa saudara baginda Abu Talib yang mengasuhnya sejak kecil juga meninggal dunia. Maka bertambahlah kesedihan yang dirasai oleh Rasulullah kerana kehilangan orang-orang yang amat disayangi oleh baginda.

Penghijrahan Ke Madinah
Tekanan daripada orang-orang kafir terhadap perjuangan Rasulullah semakin hebat selepas pemergian isteri dan bapa saudara baginda. Maka Rasulullah mengambil keputusan untuk berhijrah ke Madinah berikutan ancaman daripada kafir Quraisy untuk membunuh baginda.
Rasulullah disambut dengan meriahnya oleh para penduduk Madinah. Mereka digelar kaum Muhajirin manakala penduduk-penduduk Madinah dipanggil golongan Ansar. Seruan baginda diterima baik oleh kebanyakan para penduduk Madinah dan sebuah negara Islam didirikan di bawah pimpinan Rasulullas s.a.w sendiri.

Negara Islam Madinah
Negara Islam yang baru dibina di Madinah mendapat tentangan daripada kaum Quraisy di Makkah dan gangguan dari penduduk Yahudi serta kaum bukan Islam yang lain. Namun begitu, Nabi Muhammad s.a.w berjaya juga menubuhkan sebuah negara Islam yang mengamalkan sepenuhnya pentadbiran dan perundangan yang berlandaskan syariat Islam. Baginda dilantik sebagai ketua agama, tentera dan negara. Semua rakyat mendapat hak yang saksama. Piagam Madinah yang merupakan sebuah kanun atau perjanjian bertulis telah dibentuk. Piagam ini mengandungi beberapa fasal yang melibatkan hubungan antara semua rakyat termasuk kaum bukan Islam dan merangkumi aspek politik, sosial, agama, ekonomi dan ketenteraan. Kandungan piagam adalah berdasarkan wahyu dan dijadikan dasar undang-undang Madinah.
Islam adalah agama yang mementingkan kedamaian. Namun begitu, aspek pertahanan amat penting bagi melindungi agama, masyarakat dan negara. Rasulullah telah menyertai 27 kali ekspedisi tentera untuk mempertahan dan menegakkan keadilan Islam. Peperangan yang ditempuhi baginda ialah Perang Badar (623 M/2 H), Perang Uhud (624 M/3 H), Perang Khandak (626 M/5 H) dan Perang Tabuk (630 M/9 H). Namun tidak semua peperangan diakhiri dengan kemenangan.
Pada tahun 625 M/ 4 Hijrah, Perjanjian Hudaibiyah telah dimeterai antara penduduk Islam Madinah dan kaum Musyrikin Makkah. Maka dengan itu, negara Islam Madinah telah diiktiraf. Nabi Muhammad s.a.w. juga telah berjaya membuka semula kota Makkah pada 630 M/9 H bersama dengan 10 000 orang para pengikutnya.
Perang terakhir yang disertai oleh Rasulullah ialah Perang Tabuk dan baginda dan pengikutnya berjaya mendapat kemenangan. Pada tahun berikutnya, baginda telah menunaikan haji bersama-sama dengan 100 000 orang pengikutnya. Baginda juga telah menyampaikan amanat baginda yang terakhir pada tahun itu juga. Sabda baginda yang bermaksud:
“Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahawa Tuhan kamu Maha Esa dan kamu semua adalah daripada satu keturunan iaitu keturunan Nabi Adam a.s. Semulia-mulia manusia di antara kamu di sisi Allah s.w.t. ialah orang yang paling bertakwa. Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara dan kamu tidak akan sesat selama-lamanya selagi kamu berpegang teguh dengan dua perkara itu, iaitu kitab al-Quran dan Sunnah Rasulullah.”

Kewafatan Nabi Muhammad s.a.w
Baginda telah wafat pada bulan Jun tahun 632 M/12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah. Baginda wafat setelah selesai melaksanakan tugasnya sebagai rasul dan pemimpin negara. Baginda berjaya membawa manusia ke jalan yang benar dan menjadi seorang pemimpin yang bertanggungjawab, berilmu dan berkebolehan. Rasulullah adalah contoh terbaik bagi semua manusia sepanjang zaman.

pertumbuhan ilmu pengetahuan islam


A.    Perkembangan Ilmu pengetahuan di Dunia Islam
Pengetahuan akal dan intelektual merupakan suatu dorongan intrinstik dan inheren dalam ajaran islam. Pada masa daulah Abbasiyah, ibu kota Baghdad menjdo pusat intelektual muslim, dimana terjadi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam. Sekolah-sekolah dan akademik muncul disetiap pelosok. Perpustakaan-perpustakaan umum yang besar didirikan dan terbuka untuk siapapun sehingga pemikiran  filosofis-filosofis besar zaman klasik dipelajari berdampingan dengan ilmu islam.
Bila dianalisis lebih jauh sampai periode-periode ini kaum intelektual islam identik denan ulama. Apalagi bila diingat bahwa ulama dalam pengertian aslinya aorang berilmu. Ilmu yang dikuasainya itu tidak terbatas kepada ilmu agama saja. Pendapat ini bisa dipegang karena kagiatan intektual itu tumbuh karena manusia sibuk dengan urusan agama. Mereka ini disebut intelektual atau ulama klasik yang oleh shill sebagai intelektual lama atau intelektual sakral dari abad pertengahan.
Demikianlah sejarah perkembangan intelektual muslim pada masa yang disebut Harun Nasution sebagai periode klasik (650-1250) yang merupakan zaman kemajuan di masa inilah berkembangnya dan munculnya ilmu pengetahuan, baik dalam bidang agama maupun non agama dan kebudayaan islam. Zaman inilah yang menghasilkan ulama besar seperti Imam Malik, Abu Hanafi, Imam as-Syafi’i dan Imam Ibnu Hambal dalam bidang hukum, teologi, Zunnunal-Misri, Abu Yzaud al-Butami, dan Al-Hallaj dalam mistimisme atau tasawuf, al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Maskawaih dalam filsafat, Ibnu Hasyim, Ibnu Khawarizmi, al-Mas’udi dan Rzai dalambidang pengetaahuan.
Pada masa kejayaan ini perkembangan intelektual muslim mencapai puncaknya sehingga cenderung memmbentuk pemikiran bebas (rasionalisme) sebagaimana dikembangkan oleh aliran Mu’tazilah. Keadaan ini menimbulkan pertentangan dan kecemasan dikalangan sebagian kaum intelektual muslim. Ketika itu muncul al-Ghazali (1059-1111) menentang pemikiran bebas itu. Al-Ghazali lebih lanjut mengembangkan ,istisisme dan tasawuf. Menurut Hitti mistisisme muslim mewakili suatu reaksi intelektualisme serta formalisme yang berkembang waktu itu.
Sampai sekarang diakui bahwa periode sejarah peradaban islam serta pendidikan yang paling cemerlang terjadi pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah di Baghdad (750-1285 M) dan Daulah Umayyah di Spanyol (711-1492 M). Pada masa periode ini segala potensi yang tergantung dalam kebudayaan yang didasari nilai-nilai Islam mulai bergerak secara perlahan namun strategis. Selain terjadi kemajuan di bidang sosioekonomik terjadi kemajuan dibidang intelektual. Kemajuan intelektual tersebut ditunjang oleh kemajuan pendidikan baik institusi, intfsartruktur maupun kemajuan sains dan obyek-obyek studinya.
Khlalifah al-Maknun menunjukkan perhatiannya besar pada pendidikan dan kesusteraan. Dikumpulkan kiatab-kitab yang ada didaerah-daerah kekuasaannya seperti; Syria, Afrika, dan Mesir menggantikan apajak-pajak saja. Selalu kelihatan unta-unta memasuki kota Baghdad mambawa kertas dan kitab-kitab saja. Kitab-kitab lama diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Istana al-Maknun tanpa seakan-akan tmpat pertemuan ilmu dan sastra, bukan pusat pemerintahan dan bukan khalifah. Sebab mereka terdiri dari guru-guru pengkritik-pengkritik, penerjemah-penerjemah dan komentar-komentar.
Masa Daulah Abbasiyah adalah zaman meranumnya ilmu pengetahuan dalam dunia islam. Tamaddu islam dalam zaman ini ditandai oleh berkembangnya ilmu pengetahuan dengan sangat pesat. Dizaman ini umat islam telah membuat jalan baru bagi kehidupan ilmunya. Ini adalah hasil logis dari zamannya sendiri yang telah mengalami perubahan. Sejarah perkembangan pikiran dari berbagai bangsa melalui jalan yang sama dalam evolusi kemajuannya yang bertingkat-tingkat yang tiap-tiap tingkatan itu merupakan mata rantai yang bersambung. Peningkatan alam pikiran sejalan dengan bertambahnya kelengkapan waktu dan sebab. Karena pertumbuhan kehidupan akal dan ilmu bukanlah khayal atau mimpi yang datang dengan tiba-tiba yang tidak terikat dengan kanun dan sunnah.
Dizaman ini banyak sekali buku-buku ilmu pengetahuan yang diterjemahkan kedalam bahasa arab darui berbagai bahasa asing, disamping buku-buku asli yang dikarang dalam berbagai bidang ilmu.
Bagdad menjadi cemerlang bukan sebagai ibu kota kahlifah Abbasiyah tetapi sebagai pusat kebudayaan, seni, dan sastra yang belum pernah disaksikan oleh umat manusia serupa itu. Kota Bagdad membawa sulhu ilmu dan pengetahuan keseluruh plosok Asia, di Hindustan di bawah kekuasaan Ghaznawi pada permulaan abad ke 11 di tangan Umar Khayyam, dibawah kaum mongol setelah pertengahan abad ke 13 ditangan Nasiruddin Al-Tusi dinegara-negara Cina kira-kira akhir abad ke 13 ditangan Kuchu King. Dibawah dinasti Utsmaniyyah pada paruhan pertama abad ke 14.
Popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya dizaman khalifah Harun al-Rasyid (786-833) dan putranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. Pada masa sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter, al-Ma’mun pengganti al-Rasyid dikenal sebagi khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya penerjemah buku-buku asing digalakan. Untuk menterjemahkan baku-buku asing Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari adari golongan kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah salah satu karya besarnya ayang terpenting adalah pembangunan Baitul Hikmah. Pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakan yang besar. Pada masa al-Ma’mun inilah bagdad mulai menjadi pusatt kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
B.    Kemajuan Ilmu Pengetahuan Islam di Dunia
a)    Di Eropa
Pada abad pertengahan umat islam sanagt bergairah dalam menuntut dan mengembangkan ilmu dipelopori oleh Dibasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 750 M. Pada abad pertengahan itu terdapat tempat pusat peradaban bagdad dan dimesir didunia islam abagian timur serta sicilla dan Andalusia (Spanyol Islam) di dunia islam bagian barat. Bagdad berperan dari 750-1492 M (dikuasai kembali oleh kristen)
Pengaruh peradaban islam ke Eropa berlangsung pada abad ke 12 M dimulai dengan banykanya pemuda kristen Eropa yang belajar diberbagai universitas islam di Andalusia serta adanya gerakan penterjemah di Sicillia dan perang salib di Syria. Empirisme keilmuan islam mendorong ilmu Eropa untuk meneliti alam, menaklukan lautan dan menjelajah benua. Empirisme itu memberikan sumbangsihnya terhadap renaissanceeropa yang dimulai dari Italia pada abad ke 13 M.
b)    Di Afrika Utara
Orang romawi berusaha menyingkirkan kebudayaan latinnya dinegeri-negeri Afrika Utara. Dipindahkan sekolah-sekolah dan sistem-sistem pendidikannya sebagaimana sastra dan seni yunani menjadi cemerlang di Roma didapatinya pusat-pusat yang subur di Afrika utara sepanjang 2 abad perama semenjak Romawi menguasai Afrika.
Disamping sekolah-sekolah dan pusat-pusat kebudayaan romawi terhadap perpustakaan dimana diadakan ceramah dan seminar begitu juga panggung sandiwara adan stadium-stadium yang memenuhi desa dan kota afrika dan berusaha menyingkirkan kebudayaan Romawi.
c)    Di Andalusia
Orang-orang arab menyebut nama Andalusia untuk semua plosok Spanyol yang tunduk dibawah kaum muslimin dan nama arab itu berasal dari nama puak-puak yang berasal dari Spanyol berada dibawah kekuasaan romawi sehingga ia diserang oleh puak-puak Wandal pada abad ke 5 H. Semenjak itulah negeri ini dinamakan negeri Wandalusia atau negeri Wandal orang arab menamainya negeri Wandal.
Dari Andalusia orang-orang arab mendirikan skolah-sekolah, masjid-masjid, hotel-hotel, rumah sakit, disegala tempat. Disamping itu mereka membuka jalan dan jembatan.
C.    Ciri-ciri Umum Pendidikan Islam dan ilmu-ilmu yang berkembang pada masa keemasan, di antaranya;
a)    Masuknya ilmu akal
Yang dimaksud dengan ilmu akal adalah ilmu filsafat, matematika, geomertik, aljabar, sejarah, dan geografi. Kemudian islam mencapai puncak kegemilangnya pada waktu ia membuka diri kepada budaya-budaya lain. Khalifah al-Mansyurlah yang memulai gerakan terjemahan dan mengkaji ilmu-ilmu dari budaya-budaya lain, kemudian diikuti oleh khalifah al-Nahdi, al-Rasyid dan al-Makmun.
b)    Timbulnya sekolah-sekolah
Pada periode ini menyaksikan munculnya sekolah-sekolah yang belum terkenal sebelum itu. Nizam al-Mulklah yang pertama mendirikan sekolah-sekolah didalam islam. Pembinaan sekolah-sekolah ini mencerminkan puncaknya pendidikan persoalan islam.
c)    Munculnya Pikiran-Pikiran Pendidikan Unik.
Diantara ciri-ciri terpenting yang memberikan keunikan pendidikan islam sepanjang periode ini adalah terlibatnya ulama-ulama Islam menulis tentang judul pendidikan dan mengajarkan secara meluas dan dalam menunjukkan keprihatinan khusus dalam ini. Tokoh yang pertama-tama menyusun khusus mengenai teori pendidikan ini adalah seperti Muhammad Ibnu Suhnu (w. 430H/870M) dalam berisalahnya berjudul adab al-Muallimin etika para guru, Abu al-Hasan Ibn Muhammad al-Qasabi (w. 403H/1012M) dengan risalahnya yang ditulisnya berjudul ar-Risalah al-Mufassah li ahwal aal-Mua’llimin wa ahkam al-Mua’alaimin (kajian rinci mengenai ahwal murid dan kaidah-kaidah tentang murid dan guru) dan Burhan al-Islam az-Zarnuji (sekitar 620H/1217M) dalam risalahnya yang berjudul Ta’lim al-Muta’allimin Tariq at-Ta’allum (mengajar murid cara belajar). Selain itu sebagai teori pendidikan ditulis pula oleh beberapa tokohpada masa itu dalam buku mereka sebagai bagian dari bab-bab dan pasalnya.
d)    Masuknya ilmu sains
Perkembangan sains yang luar biasa yang dicapai para ilmuwan biologi, embriologi, genetika, biologi sel, biografi kedokteran, reaksi genetika, dan terakhir klonning hewan sebagai rintisan klonning manusia telah melampaui seluruh ramalan masa depan manusia dan membuat banyak oarng terakagum-kagum. Perkembangan dan pemanfaatan sains membuktikan bahwa alam semesta tidaklah tercipta secara kebetulan, karena bila didalamnya terdapat peraturan yang sangat teliti dan hukum yang sangat rapi untuk mengendalikan dan menjalankan alam semesta adanya peraturan dan hukum alam yang sanat akurat ini, tentu saja mengharuskan adanya sang pencipta dan pengatur yang maha berkuasa dan maha bijaksana.
Perkembangan sains yang dicapai para ilmuwan, serta pemanfaatannya yang sangat mengagumkan berkat perkembangan teknologi yang pesat baik yang diterapkan apada manusia, hewan maupun benda mati dan sebenarnya adalah sekelumit rahasia dan hukum alam yang mengendalikan dan mengatur selutruh benda yang ada yang dileakatkan Allah SWT pada benda secara sedemikian rupa, sehingga dapat sesuai dengan kondisi-kondisi yang ditetpakan bagimu.
Kemajuan ilmia tersebut merupakan hasil eksperimen ilmiah dan sains itu sendiri bersifat universal dalam arti tidak secara khusus didasarkan pada pandangan hidup tertentu akan tetapi pengguanaan dan pengambilannya tetap didasarkan pada pandangan hidup tertentu.
Oleh sebab itu walaupun penemuan ilmiah bersifat universal dalam arti tidak secara khusus asalkan pada pandangan hidup tertentu.
Menurut Ghazali ilmu-ilmu agama Islam terdiri dari:
1.    Ilmu tentang prinsip-prinsip dasar (ilmu ushul) yakni;
a)    Ilmu tentang keesaan illahi
b)    Ilmu tentang kenabian, ilmu ini juga berkaitan tentang Ihwal para sahabat serta penerus religius dan spiritualnya.
c)    Ilmu tentang akhirat dan eskatologi.
d)    Ilmu tentang sumber pengetahuan religius. Sumber pengetahuan ini ada dua, yakni sumber primer: al-Qur’an adan As-Sunnah dan sumber sekunder, yakni Ijma dan tradisi para sahabat.
2.    Ilmu tentang cabang-cabang (furu) atau prinsip-prinsip cabang, yakni;
a)    Ilmu tentang kewajiban manusia kepada tuhan (ibadah).
b)    Ilmu tentang kewajiban manusia kepada masyarakat, ilmu-ilmu ini terdiri dari;
·    Ilmu tentang transaksi, terutama transaksi bisnis dan keuangan serta hukum qishash
·    Ilmu kewajiban tentang kontraktual. Ilmu ini berhubungan terutama dengan hukum keluarga.
c)    Ilmu tentang kewajiban manusia kepada jiwanya sendiriaa. Ilamu aini membahas kualitas-kualitas moral sendiri (aalmu akhlak).
D.    Tokoh-Tokoh Ilmuwan Islam
Ilmuwan Muslim yang muncul pada abad pertengahan adalah:
·    Ilmuwan Muslim abad ke 9
a)    Jabir ibn hayya; bapak ilmu kimia, pendiri laboratorium.
b)    Al-Kharizmi; ahli matematika pertama di dunia islam.
c)    Al-Kindi; filosuf, pelopor dan pengembang ilmu pengetahuan.
d)    Abu Kamil Syuja; ahli aljabar tertua.
e)    Ibn Maskawih; dokter spesialis diet, filosofis moral.
f)    Al-fatghani; astronom yang karyanya banyak diterjemahkan.
g)    Tsabit bin Qurrah; ahli geometri, membahas waktu matahari.
h)    Al-Batani; astronom yang melakukan observasi gemilang.
i)    Zakaria al-razi; dokter penemu cacat dan darah tinggi.
·    Ilmuwan muslim abad ke 10
a)    Abu Qasim al-Zahrawi; ahli bedah, penciptaan alat bedah.
b)    Al-Farabi; filosofis emanasi, komentator karya aristoteles.
c)    Al-Mas’udi; ahli sejarah dan pengemabangan.
d)    Ibn Amajur; astronom perjalanan ke bulan.
e)    Abu Dulaf; sang penyair yagn ahli logam.
f)    Ibnu Jujlul; penulis dan ahli biografi dan ahli kedokteran.
g)    Al-Hazim; ahli matematika dan memecahkan soal-soal Archimedes.
h)    Abu wafa; astronom dan ahli matematika yang mengembangkan trigonometri.
·    Ilmuwan muslim abad ke 11
a)    Ibnu Haitsam; ahli fisika yang disegani Bcon dan Kepler.
b)    Al-Karkahi; penulis paling orisinal dibidang aritmatika.
c)    Ibnu Irak; guru al-Biruni, ahli astronom dan matematika.
d)    Al-Birruni; eksperimentalis yang berilmu luas.
e)    Ibnu Sina; dokter dan filosofis jiwa.
f)    Ibnu Yunus; penemu pendelum (600 tahun sebelum galileo).
g)    Ibnu Wafid; farmakolog yang menyelidiki obat bius.
h)    Ibnu saffar; penulis sejumlah tabel astronomis.
i)    Abu Ubaid al-Bakhri; ahli ilmu bumi.
·    Ilmuwan muslim abad ke 12
a)    Umar Khayyan; ahli aljabar dan syair.
b)    Ibnu Bajjah; filosofis dan musik
c)    Al-khariki; ahli astronom, matematika dan geografi ide-idenya dikutip oleh Roger Bacon.
d)    Al-Khazim; meterolog penemu teori gravitasi dan dokter.
e)    Jabir bin Aflan; astronom yang membangun observatorium.
f)    Ibnu Ghalib; ahli geografi, penulis sejarah Spanyol.
g)    Abu Khair; ilmuan ahli tumbuh-tumbuhan.
h)    Ibnu Rusyd; filosof, ahli hukum, perintis kedokteran umum.
i)    Ibn Thufail; filusuf, murid Ibnu Rusyd.
·    Ilmuwan muslim abad ke 13
a)    Al-Bitruji; astronom yang mengenalkan teori garak spiral.
b)    Abnu Sa’ati; dokter ahli membuat kunci
c)    Abdul Lathif; ahli anatomi, pengembang studi pertualangan.
d)    Ibnu al-Baitar; dokter, penemu 300 jenis obat.
e)    Al-Kazwini; ahli ilmu falak fan geografi.
f)    Abi Mahasin; dokter spesialis mata.
g)    Ibnu Nafis; ahli fisiologi (ilmu faal) dan sirkulasi darah yang kemudian diformalkan oleh Michael Servetus.
h)    Dan lain-lain.
Kesimpulan
Pengetahuan akal dan intelektual merupakan suatu dorongan intrinstik dan inheren dalam ajaran islam. Pada masa daulah Abbasiyah (750-1258M) masa keemasan islam dalam bidang ilmu dan pengetahauan, ibu kota Baghdad menjadi pusat intelektual muslim, dimana terjadi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam. Sekolah-sekolah dan akademik muncul disetiap pelosok. Perpustakaan-perpustakaan umum yang besar didirikan diantaranya yang terbesar yaitu Baitul Hikmah  dan terbuka untuk siapapun sehingga pemikiran  filosofis-filosofis besar zaman klasik dipelajari berdampingan dengan ilmu islam.
Dan kaum intelektual islam identik dengan ulama. Apalgi bila diingat bahwa ulama dalam pengertian aslinya orang berilmu. Ilmu yang dikuasainya itu tidak terbatas kepada ilmu agama saja. Dan kemajuan ilmu pengetahuan islam pada waktu itu sampai ke Eropa, Afrika Utara dan Andalusia.
Ciri-ciri umum pendidikan dan ilmu-ilmu berkembang pada masa keemasan islam yaitu, masuknya ilmu akal, timbulnya sekolah-sekolah munculnya pikiran-pikiran pendidikan unik, dan masuknya ilmu sains.
Dan waktu banyak sekali ilmuwan-ilmuwan islam yang muncul diantaranya; Imam Malik, Abu Hanafi, Imam as-Syafi’i dan Imam Ibnu Hambal dalam bidang hukum, teologi, Zunnunal-Misri, Abu Yzaud al-Butami, dan Al-Hallaj dalam mistimisme atau tasawuf, al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Maskawaih dalam filsafat, Ibnu Hasyim, Ibnu Khawarizmi, al-Mas’udi dan Rzai dalambidang pengetahuan.

Rabu, 23 November 2011

proses hijrah nabi muhammad

Sebab-sebab Hijrah Nabi Mihammad SAW
 
Perlawanan kaum quraisy yang semakin meningkat dan penyiksaan yang semakin kejam terhadap pengikut-pengikut Nabi Muhammad SAW mendorong beliau untuk memerintahkan kaum muslimin berangkat ke negeri Habsyi. Pilihan Nabi Muhammad SAW jatuh kepada negeri Habsyi didasarkan atas pengetahuannya sendiri bahwa al-Najasyi (Negus) yang berkuasa di negeri tersebut adalah orang yang adil lagi bijaksana dan orang Quraisy tidak punya pengaruh yang besar di negeri tersebut.
Hijrah yang pertama dalam sejarah Islam ditandai dengan berangkatnya sepuluh orang laki-laki dan empat orang perempuan ke negeri Habsyi. Peristiwa ini terjadi pada tahun 615 M dan mengandung pengertian perpindahan dari dar al harbi ke dar al amni. Pemberangkatan pertama yang berhasil itu menyebabkan pengikut-pengikut Nabi Muhammad yang lain menyusul sehingga jumlahnya mencapai 83 orang laki-laki dan 18 orang perempuan. Mungkin karena peningkatan jumlah yang berhijrah ini, sehingga sebagian sejarawan muslim berpendapat bahwa hijrah ke Habsyi dilakukan sebanyak dua kali. 
Nafsu kaum Quraisy Mekah untuk mematahkan semangat perjuangan nabi Muhammad SAW sangat besar, sehingga mereka mengutus Amr b. Ash dan Amr b. al-Walid untuk memohon kepada al-Najasyi agar pelarian dari Mekah itu dikembalikan dengan alasan bahwa mereka adalah pengacau agama dan perusak kekeluargaan serta kehormatan Quraisy. Oleh karena semua tuduhan yang dikemukakan oleh orang-orang Quraisy tidak terbukti maka permohonan mereka ditolak dan orang-orang Islam tetap diizinkan untuk tinggal di Habsyi dengan jaminan keamanan. Akhirnya mereka kembali dari Habsyi dengan rasa kecewa. Penolakan tersebut menyebabkan kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul al-Muthalib selama tiga tahun di lembah Bani Tsaqif.      
Bertahun-tahun Nabi Muhammad SAW menyerukan Islam di Mekah, tetapi hasil yang dicapai sangat minim dan tidak seimbang dengan tenaga serta pengorbanan yang telah diberikan. Pikiran-pikiran Nabi yang dinamis terasa buntu berhadapan dengan masyarakat yang tradisionil, kaku, dan statis. Partner tercinta Nabi Muhammad SAW yakni isterinya Khadijah dan pelindungnya yang disegani kaum Quraisy yaitu pamannya Abu Thalib telah berpulang ke rahmatullah dalam waktu yang hamper bersamaan. Kehilangan kedua orang tersebut merupakan problem baru Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan da’wah islamiyah di Mekah. Nabi Muhammad mencoba berkunjung ke Thaif. Penguasa di negeri itu adalah keturunan Tsaqif yang masih kerabat dekatnya. Keturunan Tsaqif yang berkuasa bergelar Kinanah, bergelar Abu Jalil, Mas’ud yang bergelar Abul Kulal dan Habib. Ketiganya adalah anak dari Amr b. Umair b. Auf al-Tsaqafi. Nabi Muhammad SAW memasuki Thaif disertai oleh Zaid b. Harist. Nabi Muhammad memasuki perkampungan orang-orang Thaif dan memperkenalkan islam kepada mereka. Nabi Muhammad mengajak orang-orang Thaif seperti beliau mengajak orang-orang di Mekah. Ajakan Nabi Muhammad membuat orang-orang Thaif marah dan mengusir mereka serta melemparinya dengan batu. Harapan Nabi Muhammad terhadap Thaif tidak terpenuhi. Namun perlakuan mereka yang kejam terhadap dirinya dimaafkannya. Nabi Muhammad mendoakan mereka supaya mereka diampuni oleh Allah dan dapat memberikan hidayah kepada kaumnya itu. Nabi Muhammad yakin penduduk Thaif belum memahami hakekat ajaran-ajaran yang dibawanya. Nabi Muhammad kembali ke mekah dalam keadaan sedih. Di Mekah Nabi Muhammad selalu berfikir daerah mana yang cocok untuk menyiarkan Islam selain Mekah.
Suatu peristiwa amat penting juga telah terjadi pada diri Nabi Muhammad SAW semasih berada di Mekah. Peristiwa tersebut dikenal dalam ejarah islam dengan Isra’ Mi’raj. Peristiwa itu terjadi setahun sebelum hijrah tepatnya 27 Rajab 621 M. Pada peristiwa ini Allah SWT memperlihatkan tanda-tanda keagungan dan kekuasaan-Nya sebagai hiburan untuk Nabi Muhammad yang sedang dirundung keseduhan. Peristiwa ini memberikan pelajaran yang sanagt berharga kepada Nabi Muhammad. Selain itu, dia juga menerima perintah untuk melaksanakan holat 5 waktu dalam sehari semalam.
Rupanya, peristiwa ini menjadi koreksi bagi umat islam yang beriman. Siapa yang beriman dengan mantap dan siapa saja yang rapuh imannya. Terbukti setelah Nabi Muhammad menyampaikan peristiwa Isra’ Mi’raj ada diantara para pengikutnya yang murtad. Sementara ada pula yang semakin mantap dank arena kecintaannya kepada Nabi Muhammad mereka berani melakukan Hijrah ke daerah yang dianggap lebih aman.
Persiapan untuk mengembangkan Islam di Yastrib memasuki tahap permulaan. Dalam keadaan sedih karena perlakuan orang-orang Quraisy serta kehilangan orang-orang yang dicintainya Nabi Muhammad sempat mendapatkan usaha udara baru dari Yatrib. Pada tahun 620 M Nabi Muhammad sempat bertemu 6 orang Yastrib dari kabilah Khazraj yang berziarah ke Mekah. Dalam pertemuannya tersebut Nabi menyeru kepada mereka untuk ke agama Allah dan mereka menyambut dengan baik serta menyatakan masuk Islam pada saat itu juga. Orang-orang Yatrib yang telah menyatakan keislamannya di Mekah memberitahukan apa yang disaksikannya kepada masyarakat Yastrib. Kedatangan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah untuk mengajak manusia menyembah Allah dan menghentikan perselisihan diantara sesame manusia. Hal ini bertepatan sekali dengan permasalahan yang dihadapai masyrakat Yastrib yaitu perselisihan antara Bani Aus dan Bani Khazraj. Karena itu, mereka menyambut Islam dengan suka cita dengan harapan suku yang sudah 15 tahun berseteru tersebut dapat berdamai.
Pada tahun 621 M orang-orang muslim Yastrib mendatangi Nabi Muhammad beserta 6 orang temannya yang lain sebagai utusan dari kabilah Khazraj dan Aus. Keenam orang tersebut menyatakan keislamannya di tempat yang bernama Aqabah. Peristiwa pengislaman orang-orang Yastrib ini juga diikuti perjanjian kesetiaan mereka kepada agama Allah. Perjanjian itu dikenal dengan perjanjian Aqabah pertama. Diantara orang yang menyatakan keislamannya terdapat seorang wanita yang bernama Afrah binti Abid bin Tsa’labah.
Ubadah bin Samit, salah seorang peserta perjanjian menceritakan materi perjanjian sebagai berikut “kami tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, kami tiada akan mencuri, kami tiada kan berzina, kami tiada akan membunuh anak-anak kami, tiada akan fitnah memfitnah, dan tiada akan mendurhakai Nabi Muhammad pada sesuatu yang tidak kami kehendaki”[1].
Perkembangan selanjutnya lebih menambah keyakinan Nabi Muhammad SAW akan bahwa orang Yastrib bersungguh-sungguh terhadap Islam. Mereka datang kembali pada 622 M dengan maksud mengadakan perjanjian Aqabah 2 sekaligus mengundang beliau untuk berhijrah ke Yastrib. Dibanding perjanjian yang pertama, perjanjian ini mempunyai ciri tersendiri. Perjanjian Aqabah 2 diikuti 75 orang dari Yastrib dan Nabi didampingi pamannya yang bernama Hamzah. Isi perjanjian kesetiaan yang diucapkan tidak jauh berbeda dengan isi perjanjian kesetiaan yang sebelumnya. Namun yang menarik dari perjanjian ini adalah peserta yang memeluk agama islam emakin banyak. Dalam dua kali perjanjian yang terjadi, Nabi mendapatkan kesan bahwa Islam telah siap berkembang pesat di Yastrib. Fakta ini membuat Nabi Muhammad SAW memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Yastrib dengan sembunyi-sembunyi. Sementara pengikut-pengikutnya meninggalkan Mekah, Nabi Muhammad bertahan di Mekah bersama Abu Bakar dan Ali b. Abi Thalib. Perpindahan kaum muslimin secara sembunyi-sembunyi akhirnya diketahui oleh kaum Quraisy karena kosongnya beberapa bagian kota Mekah dari kehidupan.
Nabi Muhammad hanya mengabdikan dirinya untuk agama Allah. Setelah Nabi Muhammad melihat pengikutnya sudah tidak ada di tanah Mekah, maka Nabi Muhammad SAW meninggalkan Mekah di tengah-tengah kesibukan dan seriusnya orang Quraisy untuk membunuh dirinya. Kaum Quraisy melakukan dan merencanakan hal itu karena takut Nabi Muhammad dapat bergabung dengan pengikutnya di Yastrib. Nabi Muhammad meninggalkan Mekah pada waktu malam dan melalui ujian-ujian berat. Setelah melalui beberapa ujian akhirnya atas izin Allah Nabi Muhammad SAW sampai di Yastrib.
Pada dasarnya, Nabi Muhammad hijrah dari Mekah menuju Yastrib merupakan perintah dari Allah SWT tetapi juga terjadi sebab alamiah lainnya. Adapun sebab alamiahnya adalah semakin kejamnya perlakuan kafir Quraisy terhadap kaum muslimin yang ada di Mekah, kaum muslimin yang ada di Mekah selalu dimusuhi, undangan kaum Khazraj dan Aus supaya Nabi Muhammad hijrah ke Mekah, dan Islam tidak berkembang di Mekah. Dari beberapa alasan tersebut, alasan yang menjadi pertimbangan Nabi Muhammad adalah Undangan dari kabilah Khazraj dan kabilah Aus yang sudah lama berseteru untuk mendamaikan mereka.

Proses Hijrah
Kaum Quraisy berencana untuk membunuh Nabi Muhammad SAW pada malam hari. Hal ini direncanakan karena ketakutan orang Quraisy akan hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Yastrib untuk memperkuat diri di sana. Semua rencana yang digendakan oleh orang Quraisy dengan izin Allah terdengar oleh Nabi Muhammad SAW sehingga dia dapat mempersiapkan segala sesuatu yang seharusnya dilakukan dengan lebih dini. Memang tidak ada orang yang menyangsikan bahwa Nabi Muhammad SAW menggunakan kesempatan itu untuk hijrah tetapi karena begitu kuatnya dia menyimpan rahasia sehingga tidak ada seorangpun yang mengetahui, sekalipun itu Abu Bakr. Ketika dia sudah mengetahui keadaan Quraisy dan kaum Muslimin sudah tidak ada lagi yang tinggal kecuali sebagian kecil Nabi Muhammad berkeinginan untuk hijrah ke Yastrib. Dalam dia menantikan perintah Tuhan yang mewahyukan kepadanya supaya hijrah, ketika itulah ia pergi ke rumah Abu Bakr dan memberitahukan, bahwa Allah telah mengijinkan dia hijrah. Kemudian Nabi Muhammad SAW meminta Abu Bakr untuk menemaninya dalam hijrahnya, yang kemudian diterima baik oleh Abu Bakr.
Di sinilah dimulainya kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan dan iman. Sebelum peristiwa itu Abu Bakr memang sudah menyiapkan dua ekor untanya yang diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah bin Uraiqiz sampai nanti tiba waktunya diperlukan. Tatkala kedua orang itu sudah siap-siap meninggalkan Mekah mereka sudah yakin sekali, bahwa Quraisy pasti membuntuti mereka. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk menempuh jalan lain dari yang biasa, juga akan berangkat bukan pada waktu yang biasa.

Ali di Tempat Tidur Nabi
Pemuda-pemuda yang sudah disiapkan Quraisy untuk membunuhnya malam itu sudah mengepung rumahnya, karena dikhawatirkan dia akan lari. Pada malam akan hijrah itu pula Nabi Muhammad SAW membisikkan kepada Ali bin Abi Talib supaya memakai mantelnya yang hijau dari Hadzramaut dan supaya berbaring di tempat tidurnya. Dimintanya supaya sepeninggalnya nanti dia tinggal dulu di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya. Sekalipun dalam kepungan para pemuda Quraisy, atas izin Allah Nabi Muhammad SAW berhasil keluar dari rumahnya dengan menaburkan pasir ke muka para pemuda Quraisy yang sedang mengepung rumah beliau seraya berkata: “alangkah kejinya mukamu”. Tidak lama setelah Nabi Muhammad meninggalkan rumahnya, para pemuda yang sudah disiapkan kaum Quraisy, dari sebuah celah mengintip ke tempat tidur Nabi Muhammad. Mereka melihat ada sesosok tubuh di tempat tidur itu dan mereka puas karena beranggapan bahwa Nabi Muhammad belum lari. Mereka semua tidak mengetahui kalau Nabi Muhammad telah keluar dari rumahnya dan digantikan oleh Ali bin Abi Thalib di tempat tidurnya. Para pemuda Quraisy akhirnya masuk ke rumah beliau dengan penuh nafsu untuk membunuh tetapi mereka hanya mendapatkan Ali bin Abi Thalib yang sedang tidur. Mereka kecewa dan tidak percaya dengan segala hal yang terjadi. Hal ini terjadi hanya karena pertolongan Allah.

Di Gua Tsur
Menjelang larut malam waktu itu, dengan tidak setahu mereka Nabi Muhammad SAW sudah keluar menuju ke rumah Abu Bakr. Kedua orang itu kemudian keluar dari jendela pintu belakang, dan terus bertolak ke arah selatan menuju gua Tsur. Jalan yang ditempuh oleh mereka berdua adalah jalan yang tidak mungkin dilewati manusia. Hal ini dilakukan supaya para pemuda Quraisy yang mengejar tidak berfikiran untuk mengejarnya melalui jalan itu. Pada waktu itu tujuan kedua orang itu melalui jalan sebelah kanan. Jalan sebelah kanan merupaka jalan yang tidak mungkin ditempuh manusia karena banyaknya tebing yang ada.
Tiada seorang yang mengetahui tempat persembunyian mereka dalam gua itu selain Abdullah bin Abu Bakr, kedua orang puterinya Aisyah dan Asma, dan pembantu mereka ‘Amir bin Fuhaira. Tugas Abdullah sehari-hari berada di tengah-tengah Quraisy sambil mendengar-dengarkan permufakatan mereka terhadap Nabi Muhammad SAW dan pada malam harinya disampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW beserta ayahnya. Amir hanya bertugas menggembalakan kambing Abu Bakr dan ketika menjelang sore diistirahatkan, kemudian mereka memerah susu dan menyiapkan daging. Apabila Abdullah bin Abu Bakr keluar kembali dari tempat mereka maka datang Amir yang mengikutinya dengan kambingnya guna menghapus jejaknya.
Kedua orang itu tinggal dalam gua selama tiga hari. Sementara itu pihak Quraisy berusaha sungguh-sungguh mencari mereka tanpa mengenal lelah. Betapa tidak. mereka melihat bahaya sangat mengancam kalau mereka tidak berhasil menyusul Nabi Muhammad dan mencegahnya berhubungan dengan pihak Yatsrib. Selama kedua orang itu berada dalam gua, tiada hentinya Nabi Muhammad SAW menyebut Nama Allah. Kepada-Nya dia menyerahkan nasibnya dan kepada-Nya pula segala persoalan akan kembali. Abu Bakr memasang telinga dengan benar-benar ketika berada di dalam gua. Ia ingin mengetahui adakah orang-orang yang sedang mengikuti jejak mereka itu berhasil.
Pemuda-pemuda Quraisy datang. Mereka membawa pedang dan tongkat sambil mondar-mandir mencari ke segenap penjuru. Tidak jauh dari gua Tsur, mereka bertemu dengan seorang penggembala, kemudian bertanya. Apakah kalian melihat Muhammad? penggembala itu pun menjawab, “Mungkin saja mereka dalam gua itu, tetapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana.”
Ketika mendengar jawaban gembala itu Abu Bakr keringatan. Abu Bakr khawatir jika para pemuda Quraisy akan menyerbu ke dalam gua. Dia menahan napas, tidak bergerak, dan hanya menyerahkan nasibnya kepada Allah. Kemudian orang-orang Quraisy datang menaiki gua itu, tetapi kemudian ada yang turun lagi. “Kenapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?” tanya kawan-kawannya. Sebagian dari mereka menjawab “Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir,” jawabnya. Jadi tidak mungkin mereka berada di situ. Nabi Muhammad SAW makin sungguh-sungguh berdoa dan Abu Bakr makin ketakutan. Ia merapatkan diri kepada kawannya itu dan Muhammad berbisik di telinganya: “Jangan bersedih hati, Allah bersama kita.”
Sarang laba-laba, dua ekor burung dara dan pohon merupakan mu’jizat yang diceritakan oleh buku-buku sejarah hidup Nabi mengenai masalah persembunyian dalam gua Tsur itu. Padahal semua itu sebelumnya tidak ada tetapi setelah Nabi Muhammad dan Abu Bakr berada didalam atas izin Allah semuanya terjadi. Sehubungan dengan mujizat ini Dermenghem mengatakan: “Tiga peristiwa itu sajalah mujizat yang diceritakan oleh sejarah Islam yang benar-benar: sarang laba-laba, hinggapnya burung dara dan tumbuhnya pohon-pohonan. Dan ketiga keajaiban ini setiap hari persamaannya selalu ada di muka bumi[2].”
Banyak ahli sejarah menyebutkan bahwa “Mereka berdua menuju ke sebuah gua di Gunung Tsur, sebuah gunung di bawah Mekah kemudian masuk ke dalamnya. Abu Bakr meminta anaknya Abdullah supaya mendengar-dengarkan apa yang dikatakan orang tentang mereka itu siang hari, kemudian sorenya supaya kembali membawakan berita yang terjadi hari itu. Amir b. Fuhaira menggembalakan kambingnya siang hari dan diistirahatkan kembali bila sorenya dia kembali ke dalam gua untuk menghilangkan jejak Abdullah b. Abu Bakr. Ketika hari sudah sore Asma datang membawakan makanan yang cocok buat mereka Rasulullah SAW dan ayahnya. Seperti itulah para ahli sejarah menggambarkan keadaan Nabi Muhammad dan Abu Bakr ketika mereka berada di gua Tsur.
Pengejaran Quraisy terhadap Muhammad untuk dibunuh itu serta tentang cerita gua ini datanglah firman Allah: “Ingatlah tatkala orang-orang kafir (Quraisy) itu berkomplot membuat rencana terhadap kau, hendak menangkap kau, atau membunuh kau, atau mengusir kau. Mereka membuat rencana dan Allah membuat rencana pula. Allah adalah Perencana terbaik.[3]
“Kalau kamu tak dapat menolongnya, maka Allah juga Yang telah menolongnya tatkala dia diusir oleh orang-orang kafir (Quraisy). Dia salah seorang dari dua orang itu, ketika keduanya berada dalam gua. Waktu itu dia berkata kepada temannya itu: ‘Jangan bersedih hati, Tuhan bersama kita!’ Maka Tuhan lalu memberikan ketenangan kepadanya dan dikuatkanNya dengan pasukan yang tidak kamu lihat. Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu juga yang rendah dan kalam Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Kuasa dan Bijaksana.”[4]

Berangkat Ke Yastrib
Pada hari ketiga, mereka berdua sudah mengetahui bahwa situasi sudah tenang kembali mengenai diri mereka. Orang yang disewa sebagai penunjuk jalan datang membawakan unta kedua orang itu serta untanya sendiri. Asma puteri Abu Bakr juga datang membawakan makanan. Oleh karena ketika mereka akan berangkat tidak ada sesuatu yang dapat dipakai menggantungkan makanan dan minuman pada pelana barang, Asma, merobek ikat pinggangnya lalu sebelahnya dipakai menggantungkan makanan dan yang sebelah lagi diikatkan. Karena itulah dia diberi nama “dhat’n-nitaqain” (yang bersabuk dua).
Mereka berangkat dan melanjutkan perjalanan dengan perbekalan yang diberikan oleh putrinya. Karena mereka mengetahui pihak Quraisy sangat gigih dan hati-hati sekali membuntuti mereka maka dalam perjalanan ke Yatsrib Nabi Muhammad dan Abu Bakr mengambil jalan yang tidak pernah dilalui manusia. Abdullah b. Uraiqit dari Banu Du’il sebagai penunjuk jalan, membawa mereka hati-hati sekali ke arah selatan di bawahan Mekah, kemudian menuju Tihama di dekat pantai Laut Merah. Oleh karena mereka melalui jalan yang tidak biasa ditempuh orang, penunjuk jalan membawa mereka ke sebelah utara di seberang pantai itu, dengan agak menjauhinya, mengambil jalan yang paling sedikit dilalui orang.
Kedua orang itu beserta penunjuk jalannya sepanjang malam dan di waktu siang berada di atas kendaraan. Tidak lagi mereka pedulikan kesulitan dan rasa lelah. Mereka hanya percaya bahwa Allah akan menolong mereka.

Cerita Suraqa B. Ju’syum
Orang Quraisy mengadakan sayembara bagi siapa saja yang dapat mengembalikan mereka berdua atau dapat menunjukkan tempat mereka maka hadiah dan kehormatan menantinya. Wajar sekali hal ini menarik hati masyarakat pada waktu itu. Tidak lama setelah sayembara diadakan, tersiar kabar bahwa ada seseorang yang melihat serombongan dengan tiga unta. Ternyata dugaan mereka tidak meleset dan mereka adalah mangsa yang selama ini mereka cari. Waktu itu Suraqa b. Malik b. Ju’syum hadir dan mengatakan mungkin mereka keluarga si fulan dengan maksud mengelabui orang itu, sebab dia sendiri ingin memperoleh hadiah seratus ekor unta. Tidak lama kemudian Suraqa b. Ju’yum mendatangi tempat yang dimaksud dan dia menemukan Nabi Muhammad beserta kedua temannya sedang beristirahat di bawah naungan sebuah batu besar embari menyantap bekal yang diberikan oleh asma, putri Abu bakr. Pada saat itu, kekuasaan Allah ditunjukkan. Setiap kali Suraqa b. Ju’syum mendekati rombongan Nabi Muhammad kudanya selalu tersungkur. Hal itu berulang sampai empat kali. Suraqa yang percaya kepada dewa berfikir bahwa itu adalah pertanda buruk sehingga dia mengurungkan niatnya dan kembali ke Mekah dengan membawa pesan tertulis yang ditulis Abu Bakr. Surat itu berisi supaya jika ada yang ingin mengejar muhajir besar itu untuk dikaburkan.
Muhammad dan kawannya itu kini berangkat lagi melalui pedalaman Tihama dalam panas terik yang dibakar oleh pasir Sahara. Mereka melintasi batu-batu karang dan lembah-lembah curam. Mereka tidak mendapatkan sesuatu yang akan menaungi diri mereka dari letupan panas tengah hari, tak ada keamanan dari apa yang mereka takuti atau dari yang akan menyerbu mereka tiba-tiba, selain dari ketabahan hati dan iman yang begitu mendalam kepada Tuhan.
Selama tujuh hari terus-menerus mereka berjalan. Mereka hanya beristirahat di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi lautan padang pasir. Hanya karena adanya ketenangan hati kepada Allah dan adanya kedip bintang-bintang yang berkilauan dalam gelap malam itu, membuat hati dan perasaan mereka terasa lebih aman. Mereka selalu yakin jika allah akan selalu bersama mereka.

Muslimin Yastrib Menantikan Kedatangan Rasul
Jarak mereka dengan Yastrib kini sudah dekat sekali.
Selama mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang hijrah Nabi Muhammad dan sahabatnya sudah tersiar di Yastrib. Penduduk kota sudah mengetahui betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari kaum Quraisy yang terus-menerus membuntuti. Oleh karena itu, semua kaum Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasulullah dengan hati penuh rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di antara mereka yang belum pernah melihatnya meskipun sudah mendengar tentang keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka semakin rindu ingin bertemu. Orangpun sudah akan dapat mengira-ngirakan, betapa dalamnya hati mereka itu terangsang tatkala mengetahui, bahwa orang-orang terkemuka Yatsrib yang sebelum itu belum pernah melihat Nabi Muhammad sudah menjadi pengikutnya hanya karena mendengar dari sahabat-sahabatnya saja.

Muhammad Memasuki Medinah
Sementara kaum Muslimin Yastrib menunggu kedatangan Nabi Muhammad, tiba-tiba datang seorang Yahudi yang sudah mengetahui apa yang sedang mereka lakukan itu berteriak kepada mereka (muslim Yastrib). “Hai, Banu Qaila ini dia kawan kamu datang!”. Nabi Muhammad sampai di Yastrib pada hari Jum’at. Nabi Muhammad pun melakukan shalat jum’at di Yastrib. Masjid yang terletak di perut Wadi Ranuna menjadi saki akan kedatangan Nabi Muhammad beserta sahabatnya. Kaum Muslimin dating dan masing-masing berusaha ingin melihat serta mendekatinya. Mereka ingin memuaskan hati terhadap orang yang selama ini belum pernah mereka lihat, hati yang sudah penuh cinta dan rangkuman iman, dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang.
Orang-orang terkemuka di Madinah menawarkan diri supaya dia tinggal di rumah mereka dengan segala persediaan dan persiapan yang ada. Tetapi dia meminta maaf kepada mereka dan kembali ke atas unta betinanya sembari memasangkan tali keluan pada untanya. Kemudian dia berangkat melalui jalan-jalan di Yastrib, di tengah-tengah kaum Muslimin yang ramai menyambutnya dan memberikan jalan sepanjang jalan yang diliwatinya itu. Seluruh penduduk Yastrib, baik Yahudi maupun orang-orang Pagan menyaksikan adanya hidup baru yang bersemarak dalam kota mereka. Mereka menyaksikan kehadiran seorang pendatang baru, orang besar yang telah mempersatukan Aus dan Khazraj, yang selama 15 tahun bermusuhan dan berperang. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka – pada saat ini, saat transisi sejarah yang akan menentukan tujuannya – akan memberikan kemegahan dan kebesaran bagi kota mereka selama sejarah ini berkembang.
Disela-sela berbagai permintaan untuk tinggal, Nabi Muhammad berpikir untuk adil sehingga dia membiarkan untanya itu berjalan kemana yang dia inginkan. Sesampainya di sebuah tempat penjemuran kurma, kepunyaan dua orang anak yatim dari Banu’n-Najjar, unta itu berhenti. Pada saat itulah Nabi Muhammad turun dari untanya dan bertanya: “Kepunyaan siapa tempat ini?” tanyanya. Mereka pun menjawab “Kepunyaan Sahl dan Suhail b. ‘Amr,” jawab Ma’adh b. ‘Afra’. Dia adalah wali kedua anak yatim itu. Fakta ini membuat kaum muslimin Yastrib terkagum-kagum dengan keadilan-Nya. Setelah berincang-bincang Nabi Muhammad SAW meminta supaya di tempat untanya berhenti itu didirikan masjid dan tempat tinggalnya.

Refleksi hijrah Nabi Muhammad SAW
Hijrah Nabi mengandung berbagai arti penting bagi umat Islam. Salah satunya adalah pentingnya membaca keadaan demi tugas mulia. Perjuangan yang gigih akan memberikan dampak yang positif dikemudian hari. karena itu hindari loyo dan mudah menyerah. perjuangkan cita-cita sampai tetes keringat terahir.

Daftar Blog Saya

  • Jauh, jauh, jauh - Aku masih ingat saat kamu harus pulang ke tempatmu, dengan menahan tetesan air mata aku melepasmu. Namun semua berubah saat aku berada dalam ka...
    11 tahun yang lalu